Tuesday, September 27, 2016

Mengapa Pria tidak Mendengar Ketika Sibuk

Kamu berbicara dengan seorang pria sedangkan dia tidak mendengar sama sekali, apa yang kamu rasakan ketika kamu tidak ditanggapi? Apakah kamu akan merasa kesal? [Mengapa mereka tidak mendengarmu padahal kamu tahu tidak ada masalah dalam pendengarannya?]

Karena fenomena ini cukup sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari [terutama untuk mereka yang setiap harinya selalu berinteraksi dengan para pria,] maka ada baiknya kamu membaca ini. Output-nya, kamu akan menyadari bahwa ketidaksanggupan mereka untuk mendengar perkataanmu adalah  hal yang wajar [yang memang mungkin terjadi.]

Fenomena Harimu, mengapa pria tidak bisa mendengar mu ketika bermain game, memperbaiki alat, mengirim, atau membaca pesan singkat (bahkan aktifitas yang sangat ringan)? Check it out :)
Si sibuk
Image: Si sibuk [pixabay]


Pria sulit mengerjakan lebih dari satu tugas dalam waktu yang sama


Tidak ada orang yang dapat mengerjakan lebih dari dua tugas dalam waktu yang sama. Kita mengenalnya dalam istilah multitasking, dan hal tersebut (multitasking) tidak benar-benar terjadi.

Yang sebenarnya terjadi adalah kita mengerjakan satu tugas dengan satu tugas lainnya secara cepat dan bergantian, sehingga seolah-olah kita melihatnya seperti melakukan dua hal sekaligus.

Kemudian apa yang membedakannya dengan wanita? mereka dapat berpindah aktifitas dari satu aktifitas ke aktifitas yang lain tanpa merasa kehilangan fokusnya terhadap apa-apa yang dilakukan.

Hal ini mengingatkan saya dengan seorang teman wanita, Rosy. Saya akui dia pintar dalam berbicara dan cukup menonjol dalam berbahasa inggris. Kami duduk dibangku SMA saat itu dan suatu hal yang sangat jarang terjadi kami saling bertukar pikiran.

Saat itu malam hari, saya sedang mengikuti agenda organisasi dan kebetulan salah seorang teman saya mengajak Rosy, untuk sekedar ikut melihat aktifitas yang kami lakukan. 

Dia sudah mengenal saya, dan sayapun mengenalinya. Hanya sebatas mengenalinya dan berbicara pun hanya sekedar saling sapa dan entah bagaimana saya memulai percakapan dengannya.

Kami berbincang tampak menyenangkan. Ketika HP nya berbunyi karena SMS masuk, dia tetap dapat mendengarkan sambil ber-sms ria. Ketika saya selesai berbicara, dia masih dapat menanggapi saya dalam konteks dari apa yang telah saya sampaikan. Dia tidak kehilangan fokus sama sekali.

Selang beberapa menit kemudian, giliran HP saya yang berbunyi. SMS masuk dan saya membaca pesan, dia tetap berbicara selama saya membaca pesan. Saya mencoba untuk mendengarkan namun saya juga penasaran terhadap pesan yang saya terima, hal tersebut menjadi sangat mengganggu.

Saya tidak mendapatkan keduanya, saya sulit untuk fokus, saya tidak bisa seperti dia. Jangankan untuk menanggapinya, untuk memahaminya saja saya kesulitan. Begitu juga pesan yang coba saya baca.

Kemudian saya meminta teman saya untuk berhenti sebentar, dia mengatakan "oh, kamu nggk bisa ya kalo sms'an sambil ngomong atau ngedenger?", "Iya, saya nggk bisa kalo sms'an sambil ngedenger orang ngomong."

Memahami situasi tersebut, teman saya memersilakan, "oh kalo osy mah bisa, nggk tau osy juga, yaudah, dibales aja itu sms nya."

Apakah hanya aku [sebagai pria] yang seperti itu?


Tidak hanya saya yang mengalami ketidakberdayaan dalam mendengar orang lain berbicara ketika sedang sibuk beraktifitas. 

Dibanding wanita, saya sering menemukan teman-teman [pria] yang tidak mendengar ketika orang lain berbicara dengannya. Bahkan saya pun sering tidak ditanggap sama sekali [terutama karena mereka sibuk dengan gadgetnya.]

"Wajar", begitulah yang saya tanggapi. Saya tidak marah, tidak kesal, dan lebih memilih menunggu teman saya menyelesaikan aktivitasnya terlebih dahulu. Karena terkadang selesai dari aktivitasnya dia kembali menanyakan apa yang telah saya katakan.

"tadi ngomong apa?"

Mungkin sebagian orang merasa "nyesek," semoga mengetahui ini sudut pandangmu menjadi lebih luas.

Bagaimana menanggapi situasi ini dalam hal yang wajar?


Pria cenderung tidak mendengar ketika sibuk namun bukan berarti tidak berlaku pada wanita. Sebenarnya bukan pria atau wanita yang menentukan ini, melainkan otak penyusunnya. 

Apakah otaknya tersusun feminin atau maskulin. Allan Pease, dalam bukunya "why men Don't listen and women can't reads maps" menjelaskan perbedaan antara otak yang tersusun feminin atau maskulin. 

Hal ini pulalah yang menjelaskan mengapa pria yang tampak pria menyukai pria atau wanita yang tampak wanita menyukai wanita. Secara umum kita mengenal fenomenanya sebagai LGBT

Namun, otak wanita secara umum memiliki batang otak yang menghubungkan otak kiri dan otak kanan lebih tebal dibandingkan dengan pria. Sehingga 30% pertukaran informasi terjadi lebih cepat dibandingkan pria.

Image: Corpus callosum [pixabay]
Penghubung itu disebut corpus callosum. Corpus callosum yang dimiliki wanita lebih tebal dari pria. Besarnya bagian ini yang lebih memungkinkan pertukaran informasi dari otak kanan ke otak kiri atau sebaliknya berlangsung lebih cepat.

Semakin cepat perpindahan informasi maka akan terlihat seseorang itu melakukan multitasking. Namun perlu diperhatikan, tidak ada orang yang dapat mengerjakan dua hal sekaligus. Yang sebenarnya terjadi adalah terlihat mengerjakan dua hal sekaligus namun melakukan aktivitas secara bergantian dengan cepat. 

Sebaliknya jika Corpus collosum tidak setebal yang dimiliki oleh para wanita [seperti yang dimiliki oleh kebanyakan pria], maka akan ada kecenderungan sedikit lebih lambat pertukaran fungsi informasi itu terjadi. Sehingga, jika kamu meminta seorang pria untuk mendengarkanmu ketika dia chatting, main game, atau nonton tv (sibuk) - mereka tidak mendengarkanmu.

Ya, biarkan kami menyelesaikan "ini" terlebih dahulu.

Mereka tidak mendengar bukan berarti sombong atau berniat stonewalling terhadapmu. Sama halnya seperti banyak perempuan yang sulit membedakan kanan atau kiri ketika menunjukkan jalan. Itu adalah salah satu kelemahannya.

Referensi:
Pease, Allan and Barbara. Why Men Don't Listen And Women Can't Read Maps. Jakarta: Ufuk Press

Saturday, August 20, 2016

Daya ingat: Fenomena Kesalahan dalam Mengingat

Pernahkah kamu mengalami kesulitan dalam mengingat suatu hal secara tidak disengaja? maksud kami, kamu tidak bermaksud mengingat hal tersebut namun karena datang seseorang menanyakan kepadamu apa yang telah kamu lihat namun sayangnya kamu tidak mengingat apa yang kamu lihat.

Sebagai contoh, kamu membuat suatu skripsi dan dibagian cover-nya tertulis namamu dengan huruf kapital. Keesokan harinya salah seorang temanmu menanyakan format huruf "nama mahasiswa" pada cover skripsi. Melalui HP, mereka berkomunikasi:

Ikmal: "Za, format huruf nama di cover make huruf kapital semua atau kapital di huruf depannya aja?"
Riza: "Kalo gasalah huruf kapitalnya dipake di awal aja."
Ikmal: "Ok za makasih"

Beberapa jam kemudian, Riza mendatangi toko photocopy. Melihat skripsinya telah selesai di jilid oleh si tukang photocopy. Riza menyadari bahwa huruf yang digunakan pada namanya adalah seluruhnya kapital. Segera dia menghubungi Ikmal. (Karena biaya jilid yang mahal)

Riza mengerjakan skripsi setiap hari, setiap siang untuk pengamatan objek dan malam pembuatan laporan. Beberapa kali dia nge-print skripsi karena adanya revisi. Namun bagaimana mungkin dia melupakan hal yang sering diliatnya setiap hari dan begitu penting?

Mungkin! Fenomena Harimu mencoba memaparkan hal yang berkaitan dengan daya ingat. Berupa perubahan informasi terhadap waktu. Informasi yang tidak sesuai dengan sumber informasi karena aktivitas yang telah dilalui.

Memori tidak seperti foto atau video

kenangan memori
Image: memori [pixabay]

Mungkin selama ini kita mengibaratkan memory adalah seperti foto atau video yang dapat kita putar kembali untuk mendapatkan kenangan yang kita inginkan. (Media memproyeksikannya seperti video jadul hitam putih yang diputar.)

Namun tidak demikian, memory tidaklah seperti foto ataupun video [mungkin lebih diibaratkan kepada puzzle.] karena daya ingat bersifat konstruksif, yaitu dapat disisipkan dengan informasi baru dan informasi tersebut akan terus dipengaruhi selama waktu yang telah dilalui.

Artinya ketika kita mengingat suatu hal pada hari senin, maka beberapa hari kemudian kita cenderung tidak mengingat secara detail apa yang kita ingat seperti awal informasi itu kita peroleh.

Kesalahan mengingat pernah diteliti oleh Dr. Elizabeth Loftus, seorang psikolog yang ahli dalam bidang daya ingat manusia. Beliau mengatakan bahwa misinformasi ada dimana-mana. Proses mengingat bersifat constructive, apa yang diingatnya tercampur dengan apa yang telah dilaluinya.

Kesalahan dalam informasi terkadang bukan karena seseorang ingin menyampaikan informasi secara salah, namun karena [ketidaksengajaan] yang diingatnya tidak seperti awal informasi yang dia terima. Berikut beliau menyampaikan penelitiannya.


Hanya karena seseorang mengatakan kepadamu secara yakin, penuh detail, dan emosi yang diekspresikan. Bukan berarti itu benar terjadi.
 -Dr. Elizabeth Loftus-

Hal ini tentu berbeda dengan mengingat lagu seperti lagu kebangsaan, atau hafalan tertentu. Ini lebih kepada informasi yang kita terima setiap hari.

Tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengingat


Dalam memahami daya ingat [seperti bagaimana kita mengingat, atau mengapa kita lupa] sebaiknya perlu diketahui 3 hal yang perlu dipertimbangkan.
  1. Bagaimana daya ingat kamu terbentuk (encoding)
    Setiap aktivitas yang kamu lakukan dimulai dari bangun tidur hingga tidur [bahkan membuka mata] juga melibatkan aktivitas memori. Hal ini berkaitan dengan segala sensor yang kita miliki (panca indra).

    Kamu melihat, mendengar, merasakan [dll] bergantung pada bagaimana kamu memersepsikan disekitarkamu. Saat kamu berpersepsi terhadap suatu hal dan saat itu daya ingat terbentuk.

    Saat kamu mendengar kata "angsa" apakah kamu mengingat 5 huruf tersebut (a-n-g-s-a) atau kamu melihat bentuk angsa dalam benakmu? Besar kemungkinan kamu akan melihat angsa. Namun yang menjadi berbeda dari angsa yang saya pikirkan dan kamu pikirkan mungkin dalam segi bentuk, warna,  posisi dll.

    Bagaimana benakmu menggambarkan tentang "angsa" bergantung pengalaman kamu terhadap si angsa

  2. Bagaimana kamu menyimpan memori (storage)
    Memori terbentuk karena perubahan biochemical yang terjadi pada synapses dari setiap sel dalam otak. Otak manusia memiliki kurang lebih 1015 synapses yang membuat koneksi-koneksi yang hampir tak terhitung jumlahnya. [Dan hingga saat ini para peneliti belum pernah menemukan kasus seseorang kehabisan ruang penyimpanan]

  3. Bagaimana kamu memunculkan memori (retrieval)
    Mungkin kamu pernah merasakan bagaimana rasanya kesulitan untuk menyampaikan sesuatu padahal dalam benakmu tergambar jelas apa yang kamu maksudkan. "Saya ngerti maksud kamu, dan saya paham bagaimana menyelesaikan tersebut, saya ingin menyampaikannya padamu tapi bagaimana caranya?"

    Atau mungkin saat mengerjakan soal ulangan disekolah [bagian isian] kamu melupakan bagaimana huruf yang seharusnya terangkai untuk membentuk jawaban yang kamu maksud. Untuk mengingat-ingatnya lagi, kamu membuka soal bagian pilihan ganda dan mencari referensi jawaban yang kamu maksud [siapa tau jawabannya ada dipilihan ganda]

    Alasan utama mengapa kita sulit memunculkan ingatan kita adalah kode yang kita gunakan saat mendapatkan informasi berbeda dengan kode yang kita gunakan untuk memunculkan hal tersebut.

Mewaspadai penyampai informasi


puzzle memori
Image: puzzle memori [pixabay]

Pernyataan Dr. Elizabeth diatas mengingatkan kita bahwa perkataan seseorang belum tentu sesuai dengan informasi yang benar terjadi. Walaupun dia mengatakannya dengan penuh keyakinan, detail, dan tidak ada kebohongan dalam penyampaiannya namun ada baiknya kita tidak sepenuhnya langsung memercayainya.

Datang ketempat dia mendapatkan informasi atau menanyakan langsung kepada seseorang yang memberikannya informasi adalah hal yang lebih baik. Hal ini bukan berarti kita selalu mencurigai berbagai hal yang disampaikan oleh teman kita melainkan menyadari bahwa "hanya informasi itulah" yang dia bisa bawa kepadamu.

Bukan berarti temanmu berbohong ketika kamu menemukan perbedaan antara informasi yang disampaikan oleh temanmu dengan seseorang yang memberikan informasi kepada temanmu. Ya, karena informasi dalam memorinya berubah seiring apa yang telah temanmu lewati sebelum sampai kepadamu.

Seperti seorang atasan yang menyuruh temanmu untuk menyampaikan sesuatu kepadamu, namun temanmu mengatakan hal yang sedikit berbeda kepadamu. Saat kamu menemui atasanmu dan mengetahui perbedaan informasi. Apakah kamu akan geram terhadap temanmu?

Mungkin kamu akan geram jika konsekuensinya tinggi sampai benar-benar merugikan kamu. Pengetahuan yang kamu miliki memengaruhi perilaku kamu sehingga kami harap saat kamu mengetahui tulisan ini, kamu dapat lebih mengontrol emosimu karena kamu memiliki sudut pandang yang lebih luas [khususnya terhadap daya ingat seseorang]

Berikut beberapa tulisan kami yang berkaitan dengan daya ingat:

Referensi:
Loftus, Elizabeth. 2016. Elizabeth Loftus. Wikipedia. Diakses: 1 Agustus 2016.
___. ___. How We Remember & How We Forget. thememoryinstitute. Diakses 6 Agustus 2016

Thursday, August 11, 2016

Fenomena stonewalling dikehidupan sehari-hari

Mungkin istilah stonewalling begitu asing di telinga kita. Tapi tahukah kamu bahwa fenomena ini cukup sering terjadi didalam kehidupan kita?

Di"kacang"in itulah kata yang biasa kita gunakan untuk menggantikan istilah stonewalling. (Kenapa tidak menggunakan kata "kacang" atau di"cuek"in?)

[Saya rasa kamu yang membaca ini pernah menghadapi kejadian seperti ini] Ketika kamu sedang berbicara dengan temanmu panjang lebar dan [sedihnya] temanmu tidak mengatakan apapun. Bahkan meresponnya dengan pernyataan yang tidak ada kaitannya dengan apa yang kamu ucapkan.


Levina: "Has, kemarin waktu mata kuliah matematika dasar, di kelas kita ada hal yang nggk diduga-duga tau. Kelas kita kedatangan murid dari program pertukaran pelajar kampus kita dengan kampus dari inggris. Dia cowok tinggi, putih terus ganteng banget tau has, keliatannya pinter soalnya dia make kacamata terus tubuhnya juga ideal. Apalagi pas denger suaranya, kan dia make bahasa inggris tuh waktu ngenalin ke kita. Suaranya berat banget. Pokoknya cowok banget lah."

Hasna: (ngitung soal kalkulus)

Levina: "Eh, Has.."

Hasna: "Oh iya, temenin saya belanja yu beli buku sama kalkulator"

Levina: ["Tadi gue ngomong sama siapaaaaa???"']

Fenomena Harimu, fenomena stonewalling dikehidupan sehari-hari. (check it out :))

Apa itu stonewalling?


Stonewalling difungsikan untuk mengkomunikasikan keengganan si pelaku stonewalling untuk mendengar atau merespon si penyampai pesan. [Apakah contoh Levina diatas merupakan stonewalling?]

Contoh diatas bukanlah fenomena stonewalling. Seseorang yang tidak merespon saat diajak bicara padahal si pendengar sedang merasa bosan juga bukan fenomena stonewalling.

Seperti halnya rasa kantuk atau seseorang yang sedang merasa sedih. Hal tersebut juga bukan fenomena stonewalling. [Kemudian, seperti apa yang termasuk fenomena stonewalling?]

Kata kuncinya adalah "keengganan." Si pendengar sebenarnya mendengar apa yang diucapkan oleh si penyampai pesan. Dia sedang tidak dalam keadaan mengantuk, suasana yang bosan, atau bahkan sedih.

Dia hanya tidak ingin mendengar dari apa yang diucapkan oleh orang itu kepadanya. Artinya dia melakukan stonewalling hanya untuk orang tersebut namun tidak untuk orang lain. Ini faktor pengaruh manusia, bukan dari dalam dirinya.

Ciri-ciri stonewalling


Agar lebih memudahkan kamu dalam memahami ini, berikut kami paparkan ciri-ciri (indikasi) yang termasuk dalam stonewalling.

Pertama, Pelaku stonewalling melakukan aktivitas yang sepele untuk menghindari kontak dengan pembicara. Ketika seseorang sedang berbicara, kemudian pendengar mengalihkan perhatiannya pada hal yang kecil.

Perhatian pada objek-objek disekitarnya, memainkan hp, memainkan jari-jari, membersihkan kuku jari, atau melihat-lihat objek yang bergerak sedikit/ringan.

Perilaku yang ditunjukkan pendengar (stonewalling) tidak dikarenakan oleh kemalasan si pendengarnya itu sendiri. Melainkan mencoba mengkomunikasikan ketidakinginannya untuk memerhatikan si pembicara.

"saya tidak ingin berada disini sekarang, dan saya tidak ingin mendengarkanmu" mungkin kurang lebih seperti itulah yang coba mereka komunikasikan kepada mereka.

Kedua, si pelaku stonewalling tidak menggunakan kata validasi atau hanya menggunakan satu persetujuan verbal atau bahkan non verbal seperti, "he'eh, ya, he'emm, dll."

Sedikit pergerakan pada wajah, apalagi mirroring atau kontak mata dengan pembicara. Seperti si pendengar membuat dinding diantara mereka.

Ketiga, pernah menemukan adegan seseorang yang banyak berbicara kemudian ditatap sekilas oleh temannya kemudian "orang yang banyak omong" itu langsung diam?

Monitoring gaze
Image: Monitoring Gaze [pixabay]

Indikasi yang ketiga disebut dengan monitoring gaze. Seseorang yang bicaranya mengganggu orang lain kemudian diam hanya dengan tatapan tajam. Seperti kita berbicara banyak di sebuah perpustakaan kemudian kita diingatkan untuk diam oleh penjaga perpustakaan.

Menatap dan sedikit menunduk namun dengan tatapan yang lurus langsung mengarah kepada orang yang menurutnya mengganggu. Seorang wanita tua dengan kacamata persegi panjang kecil, duduk disebuah meja dengan beberapa tumpukan buku dan dari kejauhan wanita tersebut menatap si pembicara (pengganggu suasana).

Ya, monitoring gaze (tatapan memantau) termasuk dalam indikasi stonewalling dan tatapan yang dilakukan terkadang tidaklah terus menerus melainkan hanya sesaat. Ingat kata kuncinya stonewalling adalah "ketidakinginan." Ketidakinginan untuk mendengar apalagi merespon si pembicara.

Pengaruh stonewalling terhadap interaksi manusia


Dalam SPAFF (Specific Affect Coding System). Stonewalling memiliki nilai negatif dalam interaksi. Nilai yang ditetapkan dalam SPAFF untuk stonewalling adalah -2. Ya, dalam SPAFF sebuah interaksi memiliki nilai. Apakah interaksi tersebut bersifat membangun atau merusak.

Kode Spaff
Image: Kode SPAFF

Interaksi yang berpotensi merusak bernilai negatif sedangkan yang membangun bernilai nilai positif. Artinya semakin sering seseorang berperilaku yang mengindikasikan stonewalling, maka hal tersebut akan berpotensi merusak hubungan antara dia dan orang lain.


Referensi:
Coan, James A., dan John M. Gottman. 2007. The Specific Affect Coding System (SPAFF). ResearchGate. Diakses: 28 Agustus 2015

Thursday, July 28, 2016

Fenomena Membohongi Diri Sendiri untuk Kelompok

Apakah kita benar-benar ingin mengatakannya? Apakah yang kita katakan berdasarkan "niat" atau sekedar menginginkan "perhatian" dari dunia luar? Mungkin judul yang kami gunakan terlalu berlebihan atau terdengar asing. Namun, fenomena membohongi diri sendiri untuk orang lain merupakan salah satu fenomena yang setiap orang hampir sering melakukannya.

Benarkah demikian? Kita sering diajarkan oleh orang tua kita bahwa berbohong merupakan hal yang tercela. Di sekolah dasarpun guru kita mengajarkan hal tersebut. Pengetahuan pada masa lalu kita telah kita bawa hingga saat ini. Tanpa sudut pandang baru, kita tetap mengatakan bahwa berbohong adalah buruk.

Jika benar bahwa berbohong itu buruk, apakah:
  1. Kamu akan mengatakan yang sebenarnya jika susu yang telah kamu terima terlalu sedikit dari yang biasa kamu minum sedangkan tuan rumah telah menyediakannya untukmu?
  2. Kamu akan mengatakan bahwa baju yang kamu terima tidak seindah yang kamu bayangkan padahal seorang temanmu yang telah memberikan pakaian itu untukmu?
  3. Kamu akan mengatakan dihadapannya bahwa aroma mulut temanmu sangat tidak sedap?
Ya kita cenderung memilih berbohong. Kita tidak membuat komplain tentang susu yang diterima terlalu sedikit, mengatakan bahwa "nggk suka" dengan baju yang kamu terima, dan kita lebih memilih diam. Seolah-olah kita sedang menggunakan topeng.

Topeng
Image: topeng (Pixabay) 

Fenomenena Harimu berlatarbelakangkan pengalaman kami terhadap pernyataan:
  1. Berbohong termasuk perbuatan tercela.
  2. Jangan sembunyikan dirimu dibalik topeng.
  3. Jadilah manusia yang terbuka, bukan tertutup.
mencoba memaparkan bagaimana kita sebaiknya menggunakan pernyataan diatas berkaitan dengan fenomena membohongi diri sendiri untuk kelompok. Sudut pandang kami serta beberapa referensi yang kami peroleh, inilah sudut pandang kami. check it out!

Kebohongan putih



Wejangan susu, hadiah pakaian dari teman kita, dan memilih diam tentang aroma mulut mereka adalah beberapa contoh dari kebohongan putih. Apakah ada kebohongan hitam layaknya ilmu putih dan ilmu hitam?

Berbeda dengan kebohongan yang biasa kita dengar seperti "kebohongan itu sifat yang kurang terpuji". Tahukah kamu ada yang disebut dengan white lies (kebohongan putih)?

White lies lebih memusatkan perhatian pada si pendengar agar efeknya tidak menyakiti hati si pendengar dan lebih mengorbankan diri sendiri (pelaku white lies).

  1. Kita tidak mengatakan rumah teman kita lebih buruk dari rumah kita karena kita tahu hal tersebut akan menyakiti hatinya.
  2. Kita tidak mengatakan bahwa hal yang disampaikan oleh atasan kita adalah sesuatu yang salah, padahal hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang kita percaya.
  3. Bahkan kita justru meng-iya-kan pernyataan teman kita yang sedang mencurahkan isi hatinya padahal kita tahu hal tersebut tidak sesuai dengan keyakinan kita.
Kita cenderung "men-support" mereka dengan membiarkan kata demi kata mereka mengalir tanpa sanggahan. Kita mengorbankan nilai yang kita percaya karena untuk menghindari sakit hati mereka yang bahkan dapat menyebabkan perdebatan hingga konflik. Kita ingin menjaga hubungan kita sebaik mungkin dengan orang lain dengan cara mengikuti arus.

Aku hanya mengikuti arus, tak berani melakukan sesuatu yang membahayakan keamananku. Tapi lucunya, keamananku saat ini terancam karena aku mengikuti arus.
Mary Jane (Tokoh dalam buku "Fish!")


Apakah white lies itu baik?


Segala sesuatu memiliki tempat dan takarannya masing-masing. Kita dapat mengatakan bahwa menggunakan alchohol itu diperbolehkan jika digunakan untuk keperluan medis. Memakan daging kambing tidak diperbolehkan jika seseorang memiliki darah tinggi.

Sama halnya dengan berbohong yaitu jika untuk menjaga silaturahmi, dengan syarat tidak merugikan orang lain, bukan untuk kesenangan diri sendiri dan bukan karena kesenangan diri sendiri. Maka hal tersebut diperbolehkan. (Ingat! harus memiliki keinginan untuk tidak mengulangi tindakan yang membuat kita berbohong)

Berbohong yang tidak dibenarkan adalah berbohong dengan mengambil keuntungan dari orang lain (ketidaktahuan dan ketidakpahaman) untuk dimanfaatkan oleh si pembohong seperti rasa aman, atau kesenangan.

Dan white lies adalah baik jika tidak sampai pada contoh point ke-3 pada sub bab "kebohongan putih" diatas. Kita berdiam diri jika melihat yang salah karena kita tak mampu untuk membenarkan hal tersebut maka itu tidak disalahkan. Namun jika sampai meng-iya-kan padahal kita tahu itu salah, kami rasa merekalah yang dimaksud "yang bermuka dua".

Bedakan berbicara untuk perhatian dengan berbicara untuk niat


Apakah kita berbicara dengan orang lain berdasarkan hal yang benar-benar ingin kita ucapkan (niat) atau hanya untuk mendapatkan perhatian mereka? Nasehat ini kami peroleh dari seorang pembicara bernama Monica Lewinsky. Beberapa pernyataannya yang menjadi perhatian kami adalah:

Situs gosip/ Media gosip. Sebuah pasar telah muncul dimana penghinaan publik adalah komoditas (sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan) dan rasa malu adalah industri.
 -Monica Lewinsky

"Kemudian apa hubungannya dengan tema kali ini?" Kami meyakini bahwa orang yang menggosip sesuatu itu bukan karena niat mereka untuk gossip. Mereka ingin orang lain memerhatikan mereka yang kemudian perhatian mereka digunakan untuk "kesengan" mereka. Dan "kesenangan" ini lah yang mereka anggap sebagai kebahagiaan mereka.

Sama halnya seseorang yang berbuat jahat, bukan karena mereka menginginkan kejahatan itu melainkan kondisi awal yang memaksa mereka yang kemudian hasil dari kejahatan mereka adalah dirasa menguntungkan bagi mereka.

Mereka membohongi diri mereka sendiri, mulut mereka menolak apa yang hati niatkan. Mereka berbicara untuk mendapatkan perhatian orang lain.

Pernahkah kamu berada disuatu kondisi yaitu berkumpul bersama teman-temanmu kemudian mulai dalam suatu pembicaraan yang menurutmu tema yang dibicarakan bertentangan dengan nilai-nilai yang kamu percaya? Sedangkan dengan tema tersebut teman-temanmu tertawa melepas penat stress kesibukan mereka?

Kemudian apa yang kamu tanggapi? hanya ikut dalam canda tawa mereka? atau justru menambahkan agar tema yang dibicarakan semakin kental? Kamu tahu bahwa itu bertentangan dengan nilai yang baik, apakah kamu akan menghentikan tema pembicaraan itu?

Jika seseorang menanggapi tema tersebut dengan menambahkan agar "kental" dan dia tahu bahwa itu adalah salah, maka dia berbicara untuk perhatian kelompok. Dia merasa dengan menambahkan sesuatu yang membuat orang lain tertawa adalah hal yang membahagiakan.

Kamipun menyadari cukup sulit untuk mengatasi hal ini, kamipun masih sering berbicara untuk perhatian dan berbicara untuk niat adalah lebih sering pada tulisan-tulisan kami bukan saat kami berinteraksi langsung dengan orang lain.

Banyak orang yang mengatakan "gimana kitanya aja, ambil positifnya buang negatifnya" namun hal yang bersifat teknis tetap perlu dihadirkan dalam kehidupan kita. Berikut sudut pandang kami yang lain yang membantu kamu mendapatkan sudut pandang baru untuk memperbaiki diri.
  1. Memahami peran pribadi manusia sebagai makhluk yang diciptakan
  2. Pengaruh orang lain dalam perkembangan manusia

"(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya Pelindung."
[Ali 'Imran 173]

Referensi:
Houston, Philip, Mike Floyd, dkk. 2013. Spy The Lie. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Lewinsky, Monica. 2015. The Price of Sahme. Youtube. Diakses: 26 Juli 2016
Lundin, Stephen C., Harry Paul, dan John Christenses. 2006. Fish! Cara luar biasa meningkatkan moral dan hasil kerja. Jakarta: Elexmedia Komputindo.

Wednesday, July 20, 2016

5 Kondisi Sebelum Kebiasaan Buruk Terjadi

Beberapa orang memiliki kebiasaan buruk yang membuat dirinya dan orang lain disekitarnya merasa terganggu. Kebiasaan seperti menggigit kuku, tidur setelah makan, atau makan sambil berdiri yang beberapa diantara kita sering melakukan hal tersebut. Apakah kamu menyadari kebiasaan burukmu?

Fenomena Harimu melalui tulisan ini, mencoba memaparkan 5 kondisi yang membuat orang melakukan aktifitas yang biasa dia lakukan. Dengan kata lain kebiasaan yang dipengaruhi kondisi lingkungan atau dirinya sendiri.

kebiasaan buruk
image: kebiasaan buruk [pixabay]


Entah itu kebiasaan buruk atau baik, bahwa 40% lebih tindakan yang dilakukan orang setiap hari bukanlah keputusan sungguhan, melainkan kebiasaan. (Duke University, 2006)

Disini kami tidak memaparkan cara mengubah kebiasaan buruk secara langsung. Kami juga tidak bisa mengubah kebiasaanmu melalui tulisan ini. Namun kami mencoba mengidentifikasikan kondisi yang membuat kebiasaan tersebut sering kamu lakukan.

Diadopsi dari sebuah karya Charles Duhigg dengan bukunya "the power of habit." Berikut 5 kondisi yang menjadi salah satu faktor sebelum kebiasaan buruk terjadi:


Kondisi #1 Perhatikan lokasi


Mungkin kamu pernah mendengar seseorang mengatakan "saya mah kalo dirumah  nggk pernah kaya gini, paling disini aja disekolah." Atau mungkin sebaliknya. Jika kamu memiliki kebiasaan buruk, bayangkan dimana biasa kamu melakukan hal tersebut.

Lokasi menjadi salah satu kondisi yang membuat orang melakukan kebiasaannya. Seperti kebiasaan buruk yang selalu dilakukan dirumah namun tidak ditempat lain.

"kenapa ya kalo dirumah itu bawa'annya pengen makaaaan terus?!" mungkin kamu juga pernah mendengar pernyataan ini. Jika iya benar dirumah, diruang mana kebiasaan itu sering terjadi? Kemudian perhatikan 4 kondisi yang lain. Apakah benar hanya lokasi? atau sebenarnya kondisi yang lain yang membuatmu melakukan kebiasaanmu.

Kondisi #2 Perhatikan waktu


Siang, sore, malam atau pagi? Pukul berapa kebiasaan itu terjadi? Waktu erat kaitannya dengan circadian rhythm atau jam tubuh. Yaitu kondisi tubuh menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada pada waktu.

Seperti halnya jam 12 siang saat terik, tubuh kita dalam keadaan lemah terutama jantung sehingga kita membutuhkan makan siang serta menghindari aktivitas berat. Jam 7 hingga 9 pagi, waktunya tubuh mendapatkan nutrisi. Disarankan oleh para praktisi kesehatan bahwa sebelum beraktifitas hendaknya manusia menyantap sarapan pagi.

Jam 5 hingga jam 7 pagi, tubuh menaruh perhatian lebih pada usus besar. Oleh karena itu buang air setiap pagi adalah baik dan disarankan minum air putih karena bisa melancarkan fungsi usus besar.

Identifikasi  kebiasaanmu, apakah setiap kebiasaan yang kamu lakukan selalu dilakukan pada waktu yang sama? jika tidak, maka bukan pengaruh waktu melainkan pengaruh kondisi lain.

Kondisi #3 Rasakan emosional dalam diri


Apa yang kamu rasakan sebelum kebiasaan itu dilakukan? Apakah merasa bosan? Kesal? Sedih? Pernah mendengar orang yang memiliki kebiasaan makan tak terkendali ketika kesal dengan orang lain?

Saat merasa sedih atau depresi mungkin seseorang akan menuju tempat yang biasa ia kunjungi untuk menikmati kesedihan bersama sesepoinya angin laut.

Kondisi emosional akan memicu hormon yang dihasilkan oleh otak. Seperti dalam keadaan stress, otak akan menghasilkan hormon cortisol sehingga kita menjadi pemurung kemudian yang dapat memicu datangnya penyakit lain.

Kemudian beberapa diantara kita mengatasinya dengan rokok, minuman keras, bahkan obat terlarang dan menjadikannya kebiasaan saat kondisi emosi sedang tertekan. Mungkin hal tersebut dapat menurunkan tingkat stress namun sayangnya hanya sebatas hal tersebut.

Video dibawah ini sedikit menjelaskan bagaimana rokok hanya dan memang hanya menurunkan tingkat stess sesaat.


Kondisi #4 Bersama Orang Lain


Saat kamu melakukan kebiasaan itu, sedang bersama siapakah kamu? seorang wanita menjadi lebih sering menjaga kondisi rambutnya saat bersama si dia. Atau memerhatikan jilbabnya lebih sering jika hanya bersamanya sehingga menjadi kebiasaan atas diri sendiri.

Seseorang yang ingin tampil menarik pada lawan jenisnya secara tidak sadar gerak tubuhnya menjaga penampilannya dan hal ini adalah wajar.

Pada kondisi ini, orang lain menjadi tolak ukur dari apa yang kita lakukan yang kemudian kita bereaksi dari reaksi mereka. Maksud kami, ada hal yang ingin kita peroleh dari kehadirannya seperti "perhatiannya."

Atau mungkin hal yang bersifat lebih biologis seperti seseorang yang selalu bersin ketika hanya bersama orang itu. Saya sendiri pernah merasakan moment seperti ini. Dimana hidung saya selalu merasa gatal jika bersama orang itu, saya sering menggosok-gosokkan hidung namun saya suka. :D

Perhatikan kebiasaan buruknya. Jika kamu melakukan kebiasaan buruk tanpa adanya orang lain disekitar kamu dan jika selalu seperti itu, maka ini adalah kondisi yang sesuai untuk kebiasaan tersebut. Artinya ketika kondisi ini terjadi, maka kebiasaan juga akan dilakukan.

Kondisi #5 Tindakan yang berlangsung tepat sebelumnya


Apa yang kamu lakukan sebelum kebiasaan tersebut kamu lakukan? Setelah makan kemudian minum. Ya, memang itulah seharusnya. Atau setelah makan kamu merokok, atau setelah minum manis dan dingin kamu akan merasa lapar?

Kondisi ini pernah saya dapati pada pengalaman saya sewaktu SMA. Dan baru menyadarinya saat menulis tulisan ini. Untuk mengetahui lebih lanjut, silakan scroll down :D

Pengalaman mengatasi kebiasaan buruk


Sewaktu SMA, saya memiliki kebiasaan meminum minuman berenergi, berelektrolit, manis, bahkan bersoda. Hampir setiap hari [atau bahkan setiap hari] saya selalu mengkonsumsi salah satu minuman tersebut.

Saya meminum minuman itu selalu pada sore hari sepulang dari aktifitas baris berbaris. Karena PBB itu melelahkan dan mungkin doktrin dari iklan juga yang "katanya" dengan produk minumannya dapat menyegarkan tubuh sehingga saya merasa minuman itu benar-benar menyegarkan.

Beristirahat setelah latihan, berteduh, sambil meminum minuman "menyegarkan" seperti kepuasan tersendiri menurut saya saat itu. ("Legaaaaa rasanya..")

Segarnya tubuh membuat saya merasa ketagihan untuk meminumnnya lagi disore hari setelah latihan. Karena kenginan yang kuat, dengan mengendarai sepeda motor sm*sh biru melalui lika liku jalan berkunjung ke minimarket untuk sekedar membeli minuman.

Setiap hari setelah latihan selalu seperti itu. Karena jadwal yang padat serta aktivitas yang berat ditambah dengan kebiasaan buruk. Hingga suatu hari saya sakit parah dan orang tua saya melarang untuk membeli minuman lagi.

Pelajaran seperti itu membuat saya sadar akan bahaya mengkonsumsi minuman berkemasan. Kemudian saya beralih pada minuman manis seperti teh manis [dan hanya sejauh teh manis].

Semenjak itu kebiasaan meminum minuman elektrolit, soda, atau berenergi sudah mulai jarang dilakukan. Namun tidak mengurangi keinginan saya mengunjungi minimarket untuk membeli minuman manis sebelum pulang kerumah.

Pertengahan kelas dua SMA, kami (saya dan teman-teman menjadi pengurus organisas) mulai jarang melakukan baris berbaris. Kami hanya melatih, mengatur, serta mengurus sehingga aktvitas yang dilakukan lebih ringan hanya saja jadwal lebih padat [serta pikiran].

Saya bersama teman-teman selalu berkumpul di lapangan atau dikantin. Sari sore hari hingga menjelang gelap bahkan hingga bintang sudah mulai bertebaran untuk hanya sekedar bercanda setelah kepenatan mengurusi tugas sekolah dan organisasi.

Dan saat itu juga, saya sudah jarang berkunjung ke minimarket untuk membeli minuman. Kebiasaan meminum minuman kemasan botol sudah tidak dilakukan dan keinginan untuk membeli juga tidak sekuat dahulu.

Dan saya baru menyadarinya sekarang saat menulis tulisan ini.

Bagaimana ini terjadi?


Jika melihat kondisi tepat sebelum saya membeli minuman tersebut dalam kondisi yaitu aktifitas berat yang saya lakukan sebelumnya (5) dan dilakukan di sore hari (2).

Jika kebiasaan saya terjadi karena waktu disore hari, maka tidak ada kaitannya dengan aktfitas ringan atau berat yang saya lakukan. Artinya setiap sore saya pasti membeli minuman entah apapun kondisi saya saat itu.

Kemudian kita liat, jika kebiasaan saya terjadi karena aktifitas berat. Maka waktu tidak memengaruhi kebiasaan saya. Artinya hanya aktifitas yang memicu saya melakukan kebiasaan tersebut.

Sehingga berdasarkan kisah di atas, identifikasi kondisi sebelum kebiasaan buruk terjadi adalah aktifitas yang tepat dilakukan sebelumnya (5).

Sekarang kita perhatikan kunci yang dipaparkan oleh charless:

"Untuk mengubah kebiasaan, kita harus mempertahankan tanda yang lama dan ganjaran yang sama namun menyisipkan rutinitas baru."

Saya mendapati tanda yang lama adalah latihan saya (aktifitas yang berlangsung sebelumnya) dan hal yang ingin saya peroleh (ganjaran) dari kebiasaan buruk saya adalah rasa segar pada tubuh.

Kemudian rutinitas apa yang saya ubah?


Perubahaan rutinitas
Image: Perubahan rutinitas

Saya mengubah rutinitas yang selalu pergi ke minimarket setelah selesai latihan, menjadi berkumpul dan bercanda bersama teman-teman. Setelah selesai latihan, saya tidak langsung pulang melainkan mengubah rutinitas untuk selalu berkumpul.

Ganjaran yang saya peroleh sama, yaitu saya merasa segar karena canda tawa bersama teman-teman saya. cukup minum air putih dan terkadang minuman manis dari kantin.


Referensi:
AsapSCIENCE. 2013. Your Brain on Crack Cocaine. Youtube. Diakses: 18 Juli 2016
Duhigg, Charless. 2006. “The Power of Habit”. Duke University